Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Maret 2014

Menulis Ringkasan / Rangkuman, Resensi, Ikhtisar, Makalah



Menulis Rigkasan / Rangkuman

Meringkas bukanlah pekerjaan yang asing bagi kita, ketika kita masih duduk di bangku SMA, kita disuruh meringkas sebuah bacaan atau yang lainnya. Demikian juga ketika menjadi mahasiswa, sering kita membuat ringkasan baik tugas yang diberikan oleh dosen maupun setelah membaca buku. 
Terdapat beberapa langkah/prosedur di dalam pembuatan ringkasan :
(1) membaca teks asli, pembuat ringkasan harus membaca terlebih dahulu bahan bacaan/teks asli yang ingin diringkas
(2) menyeleksi, pembuat ringkasan memilah-milah bagian inti dan bukan inti, menyeleksi pikiran utama dan pikiran penjelasnya
(3) menulis, pembuat ringkasan menulis ulang ide-ide pengarang yang telah dikumpulkan dalam wujud yang lebih singkat yang berbeda dengan wujud semula.
(4) membandingkan, pembuat ringkasan membadingkan hasil ringkasannya dengan teks aslinya. 

Dapat juga penulis ringkasan/ rangkuman dapat langsung melakukan kegiatan mencari pokok-pokok permasalahan terhadap tulisan yang akan dirangkum sesuai dengan tulisan yang telah dibaca dan dipahami. Pokok-pokok permasalahan dalam sebuah tulisan dapat diambil dari kalimat-kalimat utama dalam setiap paragraf. Kalimat-kalimat utama tersebut selanjutnya dihubung hubungkan dengan menggunakan konjungsi atau dengan menambah kalimat penghubung agar tampak koheren (padu). 
Hal yang harus diperhatikan di dalam membuat rangkuman adalah penggunaan bahasa yang digunakan di dalam rangkuman. Bahasa rangkuman harus berbeda dengan bahasa asli penulis buku yang dirangkum. Akan tetapi, bahasa rangkuman yang dibuat bertolak dari ide pokok pengarang yang tertuang dalam setiap paragraf atau bacaan. Dengan demikian, jika akan merangkum uraian pengarang dari suatu paragraf, penulis terlebih dahulu perlu menemukan ide pokok yang terdapat di dalam paragraf tersebut, kemudian diungkap ulang dengan menggunakan bahasa yang berbeda dan singkat. 
Agar hasil rangkuman itu tidak menyimpang dari uraian aslinya, ide-ide pokok setiap paragraf jangan diabaikan.(INI AKU, Kamis,21 April 2011). 
Jadi Ringkasan merupakan sebuah wacana yang memaparkan hal-hal penting dari sebuah teks asli atau sejenisnya. Ringkasan/ rangkuman, sering dituliskan dalam bentuk tertulis namun ada juga dalam bentuk lisan. Melalui ringkasan, seseorang dapat mengetahui intisari sebuah fenomena. Atau dapat juga dikatakan bahwa ringkasan merupakan salah satu wujud atau bentuk penyingkatan suatu informasi dengan hanya menyajikan informasi atau butir-butir penting.

Menulis Resensi

Resensi adalah ulasan atau penilaian terhadap karya atau buku. Resensi merupakan penilaian mengenai kualitas buku, baik isi maupun perwajahannya disertai alasan dan bukti.
Dapat juga dikatakan Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya, baik itu buku, novel, majalah, komik, film, kaset, CD, VCD, maupun DVD. 
Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.(Sumber :http://jajawilsa.blogspot.com

Prosedur pembuatan resensi :

(1) Pembuat resensi menceritakan isi buku yang diresensi
(2) Resensi berisi kupasan atau bahasan isi buku sebagai hasil kerja analisis-kritis yang dilengkapi dengan perbandingan-perbandingan dengan karya lain.
Resensi berbeda dengan ringkasan/rangkuman, iktisar dan sinopsis, serta abstrak. Penulis rangkuman tidak memberikan penafsiran baru terhadap suatu pengertian yang diuraikan oleh pengarang asli. Selain itu, perangkum tidak boleh memasukkan hasil pemikirannya sendiri ke dalam rangkuman sebab akan mengaburkan pengertian gagasan yang diungkapkan oleh pengarang asli.

Menulis Ikhtisar
Demikian juga dalam menulis Ikhtisar, penulis tidak boleh memasukan pendapatnya ke dalam hasil tulisan. Ikhtisar adalah rangkuman gagasan yang dianggap penting oleh penyusun ikhtisar yang digali dari sebuah teks.
Penyusun ikhtisar dapat langsung mengemukakan inti atau pokok permasalahan yang berkaitan dengan kepentingan atau perhatiannya. Sinopsis, istilah sinopsis digunakan untuk pembuatan ringkasan atau ikhtisar dari sebuah karya sastra yang berbentk prosa( Ceren, Novel, dan drama). 

Langkah dalam menulis sinopsis :

(1) Menuliskan indentitas buku
(2) Membaca buku secara keseluruhan
(3) Menuliskan sinopsis buku. Jika sinopsis untuk karya-karya sastra, berbeda halnya dengan abstrak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tercantum bahwa kata abstrak berarti ‘ringkasan’ inti ikhtisar (karangan, laporan, dsb),sedangkan kata ikhtisar berarti ‘pandangan secara ringkas (yang penting-penting saja).Istilah abstrak berasal dari bahasa Inggris,sedangkan istilah ikhtisar berasal dari bahasa Arab. 

Jadi,kedua istilah itu berpadanan akan tetapi di Indonesia istilah ikhtisar dibedakan dari istilah abstrak. Ikhtisar merupakan rangkuman gagasan yang berlaku dalam laras umum,sedangkan abstrak merupakan rangkuman atau iktisar yang berlaku dalam laras ilmiah. Oleh karena itu, berlaku format tertentu bagi abstrak,baik untuk jurnal maupun untuk karya ilmiah.

Menulis Makalah

Makalah adalah tulisan resmi tentang suatu untuk dibacakan di muka umum dan yang sering disusun untuk diterbitkan( Kamus Besar Bi,1989:546) Di dalam menulis karangan perlu diperhatikan terlebih dahulu adalah rancangan karangan. Kerangka karangan merupakan suatu cara untuk menyusun suatu kerangka yang jelas dan struktur yang teratur dari isi karangan yang akan digarap. Dapat juga dikatakan rencana kerja yang mengandung ketentuan-ketentuan tentang bagaimana dan ke arah mana penulis harus menyusun dan mengembangkan tulisannya. Hakikat menulis makalah, pada hakikatnya makalah merupakan salah satu bentuk karya tulis ilmiah, dalam penggarapannya dilakukan secara objektif, empiris, dan mendalam. 

Hakikat Menulis

Hakikat Menulis terdiri dari konsep menulis dan jenis jenis tulisan serta pengembangan paragraf. Menulis pada hakikatnya adalah suatu aktivitas aktif yang dilakukan oleh seseorang dalam menuangkan gagasan-gagasan dalam bentuk tertulis. Secara praktis, kegiatan menulis merupakan suatu kegiatan yang sifatnya produktif dan ekspresif. Oleh karena itu, seorang penulis harus memiliki kemampuan khusus dalam hal pengolahan kosa kata, pemilihan kata, dan pemahaman penyusunan ragam kalimat secara baik dan koheren.
Aspek pengolahan kosa kata, sangat terkait erat dengan masalah ‘rasa’ yang dimiliki oleh seseorang ketika seseorang merangkai kata-kata guna membentuk sebuah bangun kalimat efektif yang bermakna. Adapun aspek pilihan kata, dimaknai sebagai sebuah upaya penentuan kosa kata tertentu yang digunakan untuk memperjelas kalimat yang disusun sehingga arti dan kesesuaian kata yang digunakan dapat diimajinasikan sesuai kebutuhan. 
Sementara itu, aspek penyusunan ragam kalimat merupakan aspek yang ditujukan untuk membentuk bangun kalimat yang sesuai dengan tujuan penyampaian informasi dalam kalimat tersebut. Misalnya, apabila tujuannya adalah memerintahkan sesuatu kepada seseorang, maka kalimat yang dibentuk adalah kalimat perintah. Begitu juga dengan kalimat lain yang memiliki tujuan lain pula. 

Sedangkan jenis tulisan yaitu :
(1)  Fiksi, yaitu tulisan yang bersifat imajinatif
(2) Nonfiksi, tulisan yang bersifat faktual. Fakta dan data pada tulisan nonfiksi harus akurat. Tulisan jenis nonfiksi tidak diperkenankan menyertakan daya imajinasi pengarangnya. Dalam menulis nonfiksi hendaknya diperhatikan penggunaan kalinmat efektif, agar informasi yang disampaikan dapat diterima pembaca dengan mudah. 

Ciri kalimat erfektif yaitu :
(1) kesepadanan dan kesatuan
(2) kesejajaran bentuk
(3) penekanan kalimat
(4) kehematan, dan 
(5) kevariasian dalam struktur kalimat

Pengembangan Paragraf
Paragraf merupakan seperangkat kalimat yang tersusun logis sistematis yang di dalamnya terkandung pikiran pokok dan didukung satu atau beberapa kalimat penjelas. Oleh karena itu, pikiran pokok dalam sebuah paragraf perlu dikembangkan dengan kalimat penjelas. 
Paragraf yang baik harus memperhatikan : 
(1)  kesatuan, bila semua kalimat yang ada di dalamnya berfokus pada ide pokok paragraf
(2) kepaduan, kalimat yang terdapat dalam paragraf dititikberatkan pada hubungan antar kalimat dalam membangun paragraf, kalimat yang satu dengan yang lain terjalin dengan padu. dan 
(3) kelengkapan, sebuah paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup menunjang kalimat inti.



Hakikat Berbicara

Berbicara terdiri atas hakikat berbicara dan berbicara formal. Tentu anda ingat ketika masih kecil diajari berbicara oleh keluarga, kakak, ayah, dan ibu. Anda dilatih untuk dapat berbicara secara lancar sesuai dengan perkembangan fisik dan intelektual saat itu. Setelah dewasa, anda lancar berbicara untuk menyampaikan pendapat, perasaan, dan gagasan. Demikian juga ketika anda menjadi mahasiswa, sering  mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan berbicara yaitu seminar akademik atau diskusi ilimiah. 
Baik dalam seminar akademik atau diskusi ilimiah, menuntut keterampilan anda mengemukakan pendapat secara lisan yang didukung argumentasi untuk meyakinkan pihak lain, dengan menggunakan bahasa yang bersifat informatif dan komunikatif serta cara berbicara yang jelas dan sistematis.(Arsyad, 1986:1.9)

Pada hakikatnya berbicara sama halnya dengan keterampilan berbahasa yang lain yaitu menulis, sama- sama bersifat produktif menyampaikan pesan, gagasan, ide dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar.Dapat juga dikatakan bahwa berbicara merupakan salah satu aktivitas komunikatif yang dilakukan untuk tujuan tertentu.Ucapan yang disampaikan oleh seseorang dan bermakna, disebut sebagai aktivitas bicara. 
Ada beberapa faktor yang menunjang keefektifan dalam berbicara yaitu :
(1) ketepan ucapan
(2) penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai
(3) pilihan kata
(4) ketepatan sasaran pembicaraan.

Tujuan berbicara yang dimaksud adalah 
(1)   menyampaikan informasi, tujuan berbicara ini berupa menyampaikan gagasan kepada pendengar
(2) menyatakan diri,tujuan ini tampak pada ketika seseorang memperkenalkan diri atau ketika menyampaikan argumentasi dalam suatu masalah
(3)   mencapai tujuan,tujuan berbicara yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu
(4)  tujuan berbicara untuk ekspresi, berbicara yang dilakukan orang yang berkecimpung dalam karya sastra, 
(5)   tujuan untuk menghibur, berbicara dengan menggunakan kata-kata yang mengandung humor

- Dalam kenyataannya, aktivitas berbicara mengusung beberapa hal utama, seperti hal yang menyatakan bahwa berbicara merupakan ekspresi diri. Artinya, dengan mengujarkan sesuatu, seseorang akan dapat diketahui isi hatinya. Mungkin saat ini ia sedang marah, sedih, riang, atau bahkan tidak jujur. 

- Ada juga pendapat yang menyatakan  bahwa berbicara merupakan aspek kemampuan mental motorik. Artinya, dalam mengujarkan sesuatu, seseorang terkadang membutuhkan kemampuan pengolahan keterampilan mental agar aktivitas berbicaranya semakin memiliki makna yang kuat.

- Selain itu, berbicara juga merupakan peristiwa yang terjadi akibat adanya kesempatan dalam satu ruang dan waktu tertentu. Artinya, seseorang akan mengujarkan sesuatu apabila ada hal tertentu yang membutuhkan ujarannya. 

- Terakhir, berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang sifatnya produktif. Artinya, dengan berbicara, seseorang akan dapat menyampaikan ide, gagasan, atau pendapatnya. Tiga hal itulah yang disebut sebagai aspek produktif aktivitas berbicara.


Berbicara Formal, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam kegiatan berbicara formal yaitu :
(1) faktor kebahasaan, terdiri dari pengucapan fonem, intonasi, pilihan kata, dan struktur kalimat. Keempat unsur kebahasaan tersebut sangat menunjang dalam berbicara secara efektif.Misal, jika kita berbicara dengan intonasi yang salah, maka kalimat yang kita ucapkan akan ditafsirkan berbeda. Contoh: Bantuan sudah datang
(2) Faktor nonkebahasaan,faktor ini terdiri dari keberanian, kelancaran,kenyaringan suara, pandangan mata, gerak-gerik dan mimik, penalaran, dan yang terakhir sikap yang wajar.

Di atas sudah disampaikan bahwa berbicara sama halnya dengan menulis,maka dari itu, dalam kegiatan berbicara juga mengenal tahapan - tahapan berbicara.
Tahapan yang dimaksud adalah 
(1) persiapan kegiatan berbicara
(2) pelaksanaan kegiatan berbicara
(3) evaluasi

Hakikat Membaca

Perlu kita ketahui dalam membaca ada membaca permulaan dan ada membaca lanjut. Membaca permulaan atau membaca untuk kelompok pemula yaitu membaca untuk mengenal lambang-lambang tulis dan membunyikannya dengan lafal yang benar. Jenis membaca ini biasanya dilakukan pada siswa Sekolah Dasar di kelas satu, dua, dan tiga. Sedangkan membaca lanjut atau membaca dalam hati ditujukan kepada kelas tinggi. Membaca jenis ini identik dengan melek wacana. Tolak ukur membaca jenis ini yaitu memiliki kemampuan visual dan kemampuan kognisi. Kemampuan visual adalah kemampuan mata melihat dan menangkap lambang-lambang tulis secara cepat. Kemampuan kognisi adalah kemampuan otak memahami makna dan maksud lambang-lambang secara tepat.

Kemampuan membaca seperti di atas diperlukan strategi membaca yang efektif.
Ada beberapa strategi membaca antara lain :

(1) Membaca memindai dan membaca pemahaman. Yang termasuk membaca memindai yaitu membaca scanning,membaca dengan cara menangkap kata kunci yang menandai informasi yang kita cari. Scanning adalah keterampilan membaca yang bertujuan menemukan informasi khusus dengan sangat cepat. Seperti kita mencari kata dalam kamus. Yang dituju hanya satu kata itu kita tidak perlu mencari kata lainnya. Contoh lainnya ketika kita mencari iklan lowongan kerja, tentu saja yang kita lihat hanya pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan kita. Sedangkan membaca skimming yaitu membaca dengan tujuan untuk menemukan informasi khusus dalam suatu teks atau gambaran secara umum mengenai bentuk dan isi teks. Skimming memerlukan kecepatan membaca yang tinggi dibandingkan scanning. Contoh ketika kita ingin membeli buku anak di sebuah toko buku. Sebelum memutuskan membelinya tentu kita melihat judul, gambar, cover, isi bacaan yang cocok untuk anak kita.

(2) Membaca pemahaman yaitu kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan untuk memperoleh pengertian tentang sesuatu atau untuk tujuan belajar sehingga memperoleh pengertian tentang sesuatu atau untuk tujuan belajar. Tahap-tahap membaca pemahaman yaitu prabaca, pendugaan, membaca cepat dengan kecepatan bervariasi dan menandai bahan bacaan.

Mengukur Kecepatan Membaca (KM) adalah menghitung jumlah kata dalam bacaan dibagi dengan jumlah waktu baca dalam hitungan detik, jumlah waktu dibagi 60 sehingga menjadi menit. Mengukur Pemahaman Isi (PI) adalah menghitung persentase skor jawaban yang benar atas skor jawaban ideal dari pertanyaan tes pemahaman bacaan. Mengukur Kemampuan Efektif Membaca (KEM) menghitung jumlah kata dalam bacaan dibagi jumlah detik membaca kemudian hasilnya dikalikan dengan persentase pemahaman isi.

Untuk dapat menilai secara kritis harus memiliki kemampuan membaca dengan baik dan kritis. 
Ada beberapa karakteristik membaca kritis yaitu :
(1) Kemampuan mengingat dan mengenali,
(2) Kemampuan memahami/ menginterpretasi makna tersirat
(3) Kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep
(4) Kemampuan menganalisis
(5) Kemampuan menyimpulkan.Sintesis
(6) Kemampuan menilai isi bacaan. Selain itu, di dalam menilai bacaan secara kritis dapat dilakukan dengan mengetahui maksud penulis, memahami organisasi dasar tulisan, dan menilai penyajian penulis/pengarang.
     
       


Membaca dan Menulis Karya Ilmiah Populer

      Tampubolon (1987:170) dalam Mintowati (Modul Membaca 2:7.4) menyatakan bahwa membaca untuk kepentingan studi bukan sekadar menemukan informasi tertentu dari bahan bacaan, misalnya batasan sebuah kata, tempat terjadinya suatu peristiwa, dan sebagainya, melainkan lebih dari itu. Membaca untuk kepentingan studi adalah proses membaca untuk memahami isi buku secara keseluruhan, baik pokok-pokok pikiran maupun pikiran-pikiran penjelas sehingga pembaca memiliki pemahaman yang komprehensif. Dengan membaca yang seperti itu, pembaca dapat memanfaatkan hasil bacanya untuk kepentingan studinya. Oleh karena itu, membaca memegang peranan penting di dalam komonikasi tulis.Untuk itu, pembaca dituntut memiliki keterampilan membaca yang fleksibel. Dengan keterampilan ini pembaca diharapkan dapat menggunakannya dalam berbagai tujuan membaca dan berbagai bahan bacaan. Pada dasarnya membaca adalah memahami lambang-lambang bunyi,memahami wacana, sampai kepada memahami isi bahan bacaan.

      Ada beberapa tingkatan membaca yang selama ini kita kenal, yaitu membaca intensif dan ekstensif. Membaca intensif apabila pembaca membaca dengan cermat untuk memperoleh informasi secara detail tentang fakta, konsep, gagasan dan ide yang disampaikan oleh penulis. Sedangkan membaca ekstensif dimanfaatkan untuk menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca.

Ada beberapa pemahaman dalam membaca intensif yaitu :

(1) pemahaman Literal, pemahaman ini sedikit memerlukan kegiatan berpikir 

(2) interpretasi,pemahaman yang melibatkan keterampilan berpikir untuk mengidentifikasi gagasan dan makna yang tidak dikemukakan secara eksplisit dalan teks

(3) pemahaman kritis,pembaca tidak hanya mampu memaknai bacaan secara literal dan menginterpretasikannya, tetapi pembaca mampu menilai secara kritis gagasan yang disampaikan penulis

(4) pemahaman kreatif, selain ketiga keterampilan di atas dimiliki oleh pembaca tingkat tinggi ini, pembaca mampu menerapkan dan secara kreatif menciptakan sesuatu yang baru berdasarkan gagasan yang ada dalam teks

Ada beberapa teknik membaca intensif yaitu : 

(1) teknik SQ3R ( Survei, Survei awal mengenai gambaran umum isi buku sebelum kegiatan membaca yang sesungguhnya.Question,mengajukan pertanyaan mengenai buku yang akan dibaca,misal apa yang ingin diketahui dari buku itu. Read, kegiatan membaca, kemudian Recite yaitu menceritakan apa yang telah dibaca atau menceritakan kembali, dan yang terakhir adalah Review, meninjau ulang seluruh rangkaian kegiatan baca)

(2) Tenik KWLH, Know, yaitu pengetahuan siap yang dimiliki pembaca terhadap topik bacaan yang akan dibacanya. Want,mengidentifikasi yang ingin diketahui mengenai topik tersebut. Learn,mempelajari hal-hal yang ingin diketahui melalui kegiatan membaca. How,pembaca berusaha mencari,menemukan dan mempelajari apa yang diperlukannya dari bacaan

3) Teknik CATU,Cari, pembaca berusaha mencari butir-butir yang penting dalam bacaan, Tulis-kembali, pembaca menuliskan kembali dengan kata-kata sendiri apa yang telah dibacanya.Uji,pengecekan pemahaman. 


Selain itu, terdapat teknik membaca Esktensif yaitu :
(1) Survei Reading,pembaca ingin mengetahui gambarana secara umum dari bacaan
(2) Skimming, pembaca secara cepat, memfokuskan pada butir-butir penting,mengingat kata kunci
(3) Superficial Reading, pembaca memahami isi bacaan tidak secara mendalam, dangkal, atau pemahaman ala kadarnya.

1. Pengertian Karya Ilmiah Populer
Jones (1960) mengatakan karya ilmiah populer ditujukan untuk masyarakat umum, sedangkan karya ilmiah ditujukan untuk profesional. Slamet Suseno (1980) memberikan batasan tulisan ilmiah populer sebagai sebuah tulisan yang bersifat ilmiah, tetapi sekaligus ditulis dengan cara penuturan yang mudah dimengerti.

2. Macam-macam Karya Ilmiah
- Laporan praktikum atau laporan buku
- Kertas Kerja/Makalah
- Skripsi
- Thesis
- Disertasi
- Textbook

3. Ciri Karya Ilmiah Populer
- berisi fakta empiris yang sudah teruji dan dapat diuji kebenarannya
- tidak subjektif
- tidak mengandung unsur spekulatif dan bersifat sensasional
- memperlihatkan kerja nalar dan bersifat analitis
- mampu menjelaskan 'mengapa' dan 'bagaimana' sesuatu yang disajikan itu terjadi
- bahasan tidak menyimpang atau melebar dari pokok/tema tulisan.

4. Bentuk Tulisan Ilmiah Populer

A. Deskriptif-naratif. Bersifat ringan, tidak membutuhkan rasa penasaran pembaca. Dinikmati secara rileks. Contoh: tulisan di koran, majalah wanita, majalah keterampilan.

B. Deskriptif-ekspositoris. Menyuguhkan kupasan tulisan yang lebih mendalam. Contoh: riwayat penemuan atau sejarah terjadinya sesuatu secara historis, atau proses pembentukan sesuatu. Berisi juga tentang penjelasan yang berkenaan dengan Mengapa dan Bagaimana. Banyak ditemukan pada majalah Intisari, Tempo, Trubus.

C. Deskriptif-argumentatif. Menyuguhkan masalah yang diikuti dengan cara pemecahan masalahnya. Contoh: Jurnal Penelitian.


Hakikat Menyimak

Keterampilan mendengar,mendengarkan dan menyimak memiliki arti yang berbeda. Mendengar memiliki arti dapat menangkap suara, tidak sengaja,kebetulan,dan tidak direncanakan. Mendengarkan,sudah ada unsur kesengajaan, tetapi belum diikuti unsur pemahaman. Sedangkan menyimak memiliki arti suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. 

Selain itu, menyimak mempunyai manfaat :
(1) dengan menyimak kita akan memperoleh bayak informasi
(2) memperlancar komunikasi 
(3) Ketika sedang belajar bahasa,dapat dilakukan dengan jalan menyimak, meniru dan mempraktekkannya

Strategi menyimak :
  1. Membedakan fonem dalam konteks
Kata dari dan tari adalah kata yang berbeda, dibedakan dengan adanya huruf /d/ dan /t/. Dalam pendengaran sekilas tampak hampir sama, namun jika disimak dengan seksama ada perbedaan. Jadi dalam menyimak harus lebih diperhatikan setiap fonem dalam konteks
  1. Berlatih menangkap maksud tuturan dari sebuah kalimat
Kita kadang salah mengertikan maksud pembicaraan seseorang, misal ada yang berbicara, ” Kucing makan tikus mati di dapur.” Mungkin tafsiran orang-orang akan berbeda. Ada yang mengira yang mati adalah kucing, ada yang menyangka yang mati adalah tikus. Jika kita tidak memperhatikan intonasi kalimat (panjang-pendek, tekanan, dan nada kalimat), kemungkinan salah tafsir itu ada.
  1. Menentukan kesalahan pengucapan sebuah kata
Umumnya kesalahan pengucapan terletak pada kata yang berhomofon atau homograf seperti bank dengan bang, apel buah dengan apel upacara, dll
  1. Menangkap isi sebuah percakapan
Untuk mampu menangkap isi sebuah percakapan dibutuhkan konsentrasi yang baik.
  1. Menangkap isi sebuah wacana ilmiah dan nonilmiah
Menyimak wacana baik ilmiah dan nonilmiah lebih difokuskan pada ide atau gagasan yang dinilai penting bagi penyimaknya. Konsentrasi sudah pasti diperlukan.


Menyimak Informatif

Menyimak jenis ini bertujuan untuk memperoleh informasi dari pembicara. 
Ada beberapa jenis menyimak yaitu :
(1) menyimak ekstensif, kegiatan menyimak yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat umum, penyimak hanya menyimak bagian yang penting saja, sepintas, dan garis besarnya saja.Dalam menyimak ekstentisif terdapat menyimak sekunder yaitu menyimak secara kebetulan, menyimak pasif, melakukan menyimak sambil melakukan sesuatu, menyimak estetis,bahan simakkannya berupa karya sastra. 

(2) menyimak intensif, penyimak harus memahami secara terperinci, teliti, dan mendalam apa yang ia simak. 
Yang termasuk menyimak intensif adalah :
(a) Menyimak kritis yaitu menyimak dengan sunguh-sungguh untuk memberikan penilaian secara objektif. 
(b) Menyimak kreatif, menyimak yang bertujuan mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas penyimak, dengan cara menceritakan kembali dengan bahasa sendiri.

(3) Menyimak konsentratif, penyimak perlu konsentrasi agar bahan simakan dapat dipahami dan diikuti dengan baik







Bahasa Melayu Sebagai Bahasa Nasional

    Sejak jaman Kerajaan Sriwijaya pada abad VIII, bahasa Melayu telah dipakai sebagai bahasa perantara, bahasa perdagangan, bahasa ilmu pengetahuan, dan bahasa kesusastraan.Akhirnya tumbuh menjadi bahasa persatuan, ialah Bahasa Indonesia.Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia yang kita gunakan saat ini baik sebagai bahasa nasional maupun sebagai bahasa negara berasal dari  bahasa Melayu tua. Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa perhubungan sejak dahulu kala, terbukti adanya peninggalan yang berupa prasasti, dan digunakan dalam perdagangan, dan sebagainya. Bahasa Melayu saat itu sudah menyebar ke seluruh Nusantara ini sampai ke wilayah timur Indonesia. Karena bahasa Melayu sudah banyak dikenal oleh para pemuda saat itu, maka pada tanggal 28 Oktober 1928 diikrarkan sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional.

Dipilihnya bahasa Melayu sebagai bahasa nasional dengan alasan : 
(1) Sebagai bahasa Lingua Franca di Indonesia
(2) Bahasa Melayu mempunyai sistem yang sederhana, mudah dipelajari 
(3) Suku Jawa dan Sunda telah rela menerima bahasa Melayu sebagai bahasa nasional
(4) Faktor penentu bahasa itu sendiri yang dapat mengatasi perbedaan perbedaan bahasa antarpenutur yang berasal dari bahasa daerah.

Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia antara lain sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.
Sebagai bahasa nasional berfungsi :
(1) lambang kebanggan nasional
(2) lambang identitas nasional
(3) alat pemersatu berbagai suku bangsa
(4) alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya 

Sedangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara berfungsi :
(1) bahasa resmi negara
(2) bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan
(3) alat perhubungan tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah
(4) alat pengembang kebudayaan, ilmu pengatahuan, dan teknologi


Peran dan Fungsi Bahasa Indonesia dalam IPTEK dan IPTAK

A. Bahasa Indonesia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Berdasarkan fungsi bahasa Indonesia, sebagai bahasa negara,dijelaskan bahwa bahasa Indonesia sebagai pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari uraian ini dapat dipahami Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pendukung/pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk kepentingan nasional kita. Bahasa adalah kunci untuk membuka khasanah pengetahuandan teknologi yang ada saat ini. Dalam buku ilmu pengetahuan terdapat ilmu pengetahuan dan teknologi dari berbagai disiplin ilmu. Dengan bahasalah, kita dapat menguasai ilmu tersebut.

Seperti kita ketahui bahwa ilmu pengetahuan di Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan dengan di negara-negara maju seperti Negara-negara di Eropa dan Amerika. Perkembangan bahasa Inggris seimbang dengan ilmu pengetahuannya. Hal tersebut karena buku-buku yang dipergunakan untuk memperkenalkan ilmu pengetahuan dan teknologi berbahasa Inggris. Keadaan tersebut tidak sebaik pada bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia selalu ketinggalan, perkembangannya tak selaju perkembangan budaya bangsanya. Oleh sebab itu, walaupun bahasa Indonesia sudah berperan sebagai alat persatuan tetapi belum dapat berperan sebagai pengantar ilmu pengetahuan.

Upaya apa yang harus kita lakukan untuk menjawab tantangan tersebut. Pertama kita harus membiasakan sikap ilmiah dengan cara melengkapi buku-buku ilmiah sebagai salah satu syarat. Menurut Halim (dalam Bakry, 1981:179) kesalahan tersebut bukan karena ketidakmampuan bahasa Indonesia sebagai pengantar ilmu pengetahuan, tetapi karena kekurangan bahasa Indonesia dalam hal peristilahan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sekarang ini Pusat Bahasa masih memberlakukan upaya untuk menciptakan istilah-istilah baru untuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Usaha lain yang harus dilakukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dengan cara harus menerjemahkan semua buku ilmu pengetahuan di dunia ini ke dalam bahasa Indonesia. Dengan adanya informasi ilmiah pengetahuan yang berarti meningkatkan mutu bahasa Indonesia sebagai bahasa Ilmiah. 


B. Bahasa Indonesia dalam Kegiatan Keagamaan

Bahasa Indonesia banyak dipergunakan dalam aktivitas keagamaan sebagai alat/sarana komunikasi untuk menginformasikan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat. Hal tersebut sudah terjadi sejak negara maritim Sriwijaya yang beribu kota di Sumatra pernah menjadi pusat pengajian dan penyiaran agama Budha.

Begitu pula dengan agama Islam ketika masuk ke wilayah Asia Tenggara. Bahasa Melayu ikut memegang peranan penting untuk penyebarannya agama ke daerah-daerah yang jauh. Demikian pula dengan bangsa Portugis, bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Indonesia, dalam usaha perdagangan dan misinya menyebarkan agama di Kepulauan Maluku, juga menggunakan bahasa Melayu bukan bahasa Portugis dan bukan pula bahasa setempat sebagai bahasa pengantar.

Jadi bahasa Melayu yang saat ini menjadi Bahasa Indonesia sudah sejak lama digunakan dalam kegiatan keagamaan sebagai sarana komunikasi. Tempat-tempat beribadah yang waktu lalu menggunakan bahasa daerah dalam penyelenggaraan khotbah,sekarang sudah menggunakan bahasa Indonesia. Selain itu, buku-buku keagamaan dalam bahasa Indonesia juga makin banyak yang diterbitkan. Hal di atas menunjukkan bahwa bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana komunikasi keagamaan.


Hubungan Empat Keterampilan Berbahasa


Empat keterampilan berbahasa baik lisan (menyimak dan berbicara) maupun tulis (membaca dan menulis) memiliki keterkaitan yang sangat erat. Satu keterampilan akan mendukung keterampilan yang lainnya. Hubungan antarragam bahasa (ragam lisan atau ragam tulis) lebih erat dibandingkan hubungan keterampilan antarsifat (reseptif atau produktif). Contohnya menyimak dengan berbicara lebih erat dibandingkan hubungan menyimak dan membaca atau menulis. Hubungan keterampilan pada ragam yang sama dapat disebut hubungan langsung, sedangkan hubungan keterampilan pada sifat yang berbeda hubungannya adalah tidak langsung.

1. Menyimak
Menyimak adalah kegiatan berbahasa dengan tujuan memahami pesan yang disampaikan pembicara, dapat disimpulkan bahwa menyimak berbeda dengan mendengar. Didalam menyimak, orang tidak hanya mengaktifkan pendengarannya tetapi juga harus berkonsentrasi serta menggunakan sikap positif baik terhadap pembicara maupun bahan pembicaraan
Pengetahuan yang diperoleh seseorang melalui menyimak dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuannya berbicara. Dengan kata lain, untuk dapat menjadi pembicara yang baik, orang harus memiliki keterampilan menyimak yang baik

2. Membaca
Membaca adalah kegiatan berbahasa dalam rangka memahami pesan. Pesan yang dipahami oleh pembaca adalah pesan yang disampaikan melalui tulisan. Artinya keterampilan membaca tergolong kedalam keterampilan berbahasa tulis

3. Berbicara
Berbicara adalah kegiatan menyampaikan pesan kepada orang lain (penyimak) dengan media bahasa lisan. Suhendar (1992:20) mendefinisikan, berbicara adalah proses perubahan wujud pikiran/ perasaan menjadi wujud ajaran.
Keterampilan berbicara sama dengan keterampilan berbahasa yang lain (menyimak, membaca dan menulis) yang memerlukan pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan berfikir yang memadai.Setiap orang dapat memiliki keterampilan berbicara yang baik asal bersungguh sungguh belajar untuk memahami konsep konsep tentang berbicara dan melakukan latihan secara berkesinambungan

4. Menulis
Menulis adalah keterampilan berbahasa kedua yang bersifat produktif. Untuk memperoleh tulisan yang baik, penulis juga harus melalui tahapan tahapan, yaitu tahap pra penulisan, tahap penulisan dan tahap pasca penulisan.Untuk dapat menjadi penulis yang baik, seseorang dituntut untuk memiliki beberapa pengetahuan sekaligus. Seorang penulis emerlukan pengetahuan tentang isi(substansi) tulisan , sedangkan pengetahuan tentang bagaimana menuliskannya adalah pengetahuan yang menyangkut tentang aspek aspek kebahasaan dan tekhnik penulisan. Amran Halim mengemukakan lima komponen penting dalam sebuah karangan yaitu 
(1) isi karangan 
(2) bentuk karangan 
(3) tata bahasa  
(4) gaya 
(5) ejaan dan tanda baca

Sebagaimana menyimak dan berbicara, keterampilan membaca dan menulis juga dapat berganti peran. Ketika Anda menerima surat, Anda membacanya. Anda menjadi pembaca. Ketika Anda menulis surat balasan maka Anda menjadi penulis.

Pengetahuan seseorang yang diperoleh melalui membaca dapat digunakan untuk memperoleh atau meningkatkan keterampilan menulis. Dengan kata lain, untuk dapat menjadi penulis yang baik, orang harus memiliki keterampilan membaca yang baik.
Keterampilan berbahasa yang memiliki sifat sama pasti memiliki hubungan yang erat. Keterampilan menyimak dan membaca keduanya bersifat reseptif. Pengetahuan seseorang yang diperoleh melalui kegiatan menyimak akan menjadi skemata yang akan membantunya ketika memahami isi bacaan, demikian pula sebaliknya; pengetahuan yang diperoleh dari bacaan atau hasil membaca akan menjadi skemata yang akan membantu dalam memahami isi simakan. Artinya, kedua keterampilan berbahasa reseptif ini selalu saling mendukung. Dapat disimpulkan bahwa, seseorang yang terampil membaca juga terampil menyimak atau sebaliknya.
Berikutnya keterampilan menyimak yang dimiliki seseorang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan menulisnya . Hal yang sama juga dimiliki oleh keterampilan membaca dan berbicara. Pengetahuan yang diperoleh seseorang dari membaca dapat ia kemukakan pada kegiatan berbicara. Dengan demikian terdapat hubungan pada ragam dan sifat yang berbeda.

Kesimpulannya setiap keterampilan berbahasa tersebut memiliki hubungan satu dan yang lainnya dan saling mendukung.Tidak akan seseorang hanya memiliki satu keterampilan berbahasa saja, misalnya orang yang terampil menulis tetapi tidak terampil membaca atau terampil membaca tetapi tidak terampil berbicara. Dengan demikian untuk memperoleh keterampilan tersebut harus melalui latihan yang berkesinambungan.